16 April 2026

Film “Teman Tegar Maira” Tayang Perdana di Malang, Sang Sutradara Ceritakan Pengalaman Pembuatannya

Pemeran Maira (tengah) bersama Sutradara, Anggi Frisca (kanan). (Foto: Aris)

Bagikan :

REPORTASEMALANG.COM – Film bioskop berjudul “Teman Tegar Maira – Whisper From Papua”, karya Anggi Frisca telah diputar di Bioskop Transmart MX XXI Malang, Jumat (30/01/2026).

Film ini sendiri dibintangi oleh Elisabet Sisauta sebagai Maira dan Tegar yang diperankan oleh M. Aldifi Tegar Rajasa.

Asyifa Muhammad Fatah selaku CEO dari Wonderful Experience melakukan kolaborator dengan Aksa Bumi Langi selaku rumah produksi film, untuk melaksanakan penyelenggaraan event kali ini.

Fatah juga mengundang berbagai elemen seperti komunitas Yatim Dhuafa dan Disabilitas, komunitas seniman, awak media dari Radio, Televisi dan Media Online, Instansi Pemerintahan, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), komunitas Brand, hingga Influencer.

Fatah mengatakan bahwa Gala Premiere penayangan film Maira ini sendiri akan ditayangkan pada tanggal 5-11 Februari 2026.

“Untuk Kota Malang sendiri, penayangannya khusus hari ini, karena merupakan special screening-nya”, lanjutnya.

Latar Belakang Pembuatan Film

Menurut Anggi Frisca, sebagai Penulis dan Sutradara film Teman Tegar Maira mengatakan, jika yang melatarbelakangi pembuatan film ini karena pengalaman sebelumnya dalam pembuatan film yang mengangkat tema tentang anak, isu sosial budaya, alam, dan lingkungan.

Alasan Frisca memilih Kota Malang untuk melakukan penayangan perdana, karena Kota Malang sendiri merupakan kota yang punya semangat besar termasuk masyarakatnya terhadap perfilman.

Frisca merasa bahwa kekayaan Indonesia saat ini, bisa dilihat adanya kekayaan flora dan fauna-nya, serta keberagaman area yang dimiliki. Dan, pada saat ini sedang berada dalam kondisi yang krisis seperti itu.

Frisca sendiri juga meyakini bahwa Indonesia itu sangatlah kaya. Dan akan sangat disayangkan apabila kita kehilangan banyak hutan yang merupakan sumber kekayaan di negeri ini.

“Terlepas dari itu, yang menyelamatkan kita dari bencana alam bukan uang, tapi hutan dan keragaman yang yang sebetulnya merupakan kekayaan yang ada di negeri ini”, ungkap Frisca.

Secara keseluruahan, hampir 70 persen dalam proses pembuatan film ini telah bekerjasama dengan teman-teman yang ada di Papua.

“Jadi, Papua bukan cuma sekedar dijadikan latar pembuatan film, namun bagaimana kita secara bersama-sama bersuara”, ujarnya.

Foto bersama pemain, sutradara, panitia pelaksana dan tamu undangan. (Foto: Aris)

Tantangan Pembuatan Film

Frisca menjelaskan jika dalam proses pembuatan film ini menghabiskan biaya yang sangat mahal sekitar 9 Miliyar dan dikerjakan dengan memakan waktu hingga 2 tahun.

Hal itu, tidak lain karena jangkauan transportasi dan akomodasi ke Papua ini lumayan susah.

Dalam pembuatan film ini terdapat tantangan dalam proses pengerjaannya. Kita harus melakukan riset dulu di lapangan, bagaimana dan seperti apa kondisinya.

Frisca lalu menegaskan, “lokasinya yang tidak mudah untuk dijangkau dan kita harus melakukan perjalanan selama 2 hari untuk sampai hingga ke titik lokasi yang dituju”.

Dengan suksesnya pembuatan film ini, dia tidak berharap profit atau keuntungan yang besar. Melainkan, bagaimana bisa membuat film dengan tema seperti ini lagi, yang bisa diminati oleh penonton dan supaya bisa terus berkarya lagi.

Friska menyampaikan pesannya bahwa tantangan itu akan merubahmu, termasuk tantangan yang baik akan bisa merubahmu.

Dia juga berharap agar mendukung perfilman yang ada di Indonesia, termasuk mendukung film-film yang bisa memberikan nilai dan pesan penting yang dapat menjadi inspirasi. Dan, masa depan anak-anak sebagai generasi penerus, ada di tangan tontonannya.

“Jadi, saya berharap film ini dapat ditonton oleh anak-anak kecil supaya mereka bisa terinspirasi dan punya sosok atau pahlawan baru dalam hidupnya”, pungkasnya.

DLH Ingatkan Untuk Menjaga Dan Melestarikan Pohon di Kota Malang

Drs. Suhartini bersama Pemeran Maira dan Sutradara Film. (Foto: Aris)

Mewakili dari pejabat pemerintahan yaitu Suhartini, dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang. Drs. Suhartini menyatakan kalau pada dasarnya tupoksi dari DLH ini adalah untuk mempertahankan lingkungan dari segi tutupan lahan.

“Tutupan lahan sendiri salah satunya dengan melakukan penanaman pohon”, ujar Suhartini.

Suhartini mengingatkan bagi warga Kota Malang, dengan adanya penayangan film ini kita bisa mengambil salah satu makna yang dapat diambil dari penayangan film ini, bahwa pohon itu juga punya kehidupan.

“Jadi kalau ada pengusaha maupun calon pengusaha, mohon agar pohon-pohon yang ada di Kota Malang ini dipertahankan”, ujarnya.

Mengingat dari film tadi bahwa yang terjadi saat ini, kelembapan udara di Kota Malang masih kalah jika dibandingkan dengan Kota Surabaya.

“Maka dari itu, Kota Malang dapat menjaga kelestarian lingkungan jika kita melihat dari penayangan film tadi”, pungkas Suhartini.

Dan, DLH berharap agar pepohonan yang ada di Kota Malang saat ini dapat dimanfaatkan dan dijaga dengan baik.