27 Mei 2026

Pengabdian Masyarakat, Tim Polinema Pasang Lampu Tenaga Surya dan Pompa Air di Desa Wringinsongo Malang

Bagikan :

Reportasemalang – Tim pengabdian masyarakat Politeknik Negeri Malang (Polinema) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan. Melalui program Wringinsongo Inclusive Clean Water System yang didukung pendanaan internasional dari IEEE Tech4Good 2025, tim yang beranggotakan delapan orang ini berhasil menyelesaikan serangkaian kegiatan strategis di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, meliputi pemasangan lampu penerangan tenaga surya, instalasi pompa air, serta pelatihan operasional sistem pemantauan air bagi warga dan pengurus BUMDES setempat.

Tim pelaksana program ini terdiri dari Ratna Ika Putri selaku ketua tim, didampingi tujuh anggota yaitu Ferdian Ronilaya, Sapto Wibowo, Muhammad Akhlis Rizza, Muhammad Afif Hendrawan, Zakiyah Amalia, Dwi Ratnaningsih, dan Evi Suwarni. Mereka merupakan dosen-dosen Polinema dengan latar belakang keahlian yang beragam, mencakup teknik elektronika, teknik elektro, informatika, mekатроnika, teknik mesin, teknik sipil, hingga administrasi bisnis, sehingga mampu menangani proyek multidisiplin ini secara komprehensif dari aspek teknis maupun pemberdayaan masyarakat.

Terang di Tengah Sawah: Tiga Lampu Surya Hadir untuk Keamanan Warga

Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan tandon air Desa Wringinsongo selama ini adalah lokasi tandon yang berada di tengah areal persawahan, jauh dari jaringan listrik PLN dan minim penerangan. Kondisi ini menyulitkan petugas BUMDES Tirta Jaya Kreasi saat harus melakukan pemeriksaan atau perbaikan pada malam hari, dan menimbulkan risiko keselamatan bagi warga yang melintas di sekitar kawasan tersebut.

Untuk mengatasi hal itu, tim Polinema memasang tiga unit lampu penerangan jalan tenaga surya (solar flood light) berkapasitas 150 watt di area sekitar tandon. Setiap unit dilengkapi panel surya 2×24 watt, baterai LiFePO4 berkapasitas 6×6.000 mAh, serta tiang dan pondasi khusus yang dirancang tahan cuaca. Lampu mampu beroperasi selama 10 hingga 20 jam setelah pengisian penuh yang hanya membutuhkan 4 hingga 5 jam paparan sinar matahari.

“Sekarang petugas kami tidak perlu khawatir lagi kalau harus cek kondisi tandon malam hari. Sudah terang, lebih aman,” ujar Novi Angga, Ketua BUMDES Tirta Jaya Kreasi Desa Wringinsongo.

Pompa Baru, Distribusi Lebih Andal

Selain penerangan, tim juga menyelesaikan pemasangan pompa air submersible tipe borehole bertenaga 3–4 kW dengan material impeller dan housing berbahan stainless steel. Pompa ini dirancang untuk mendorong air dari sumber mata air menuju tandon baru berkapasitas 8.000 liter yang telah dibangun di lahan milik Pemerintah Desa Wringinsongo.
Instalasi pompa mencakup pemasangan panel kontrol tiga fasa lengkap dengan proteksi thermal overload relay (TOR), magnetic contactor, MCB, dan float switch, serta pengkabelan daya tiga fasa menggunakan junction box kedap air.

Seluruh pekerjaan instalasi melibatkan tenaga teknis lokal dari warga desa sebagai bagian dari strategi pemberdayaan komunitas.
Dengan kombinasi tandon baru dan pompa yang lebih andal, kapasitas distribusi air bersih Desa Wringinsongo kini meningkat signifikan, memungkinkan layanan yang sebelumnya hanya menjangkau 300 kepala keluarga untuk diperluas hingga 400 kepala keluarga.

Pelatihan: Warga Diajarkan Pantau Air Lewat Website

Tidak berhenti pada instalasi fisik, tim Polinema juga menyelenggarakan dua sesi pelatihan intensif yang menjadi kunci keberlanjutan program jangka panjang.
Pelatihan pertama berfokus pada pengoperasian dan perawatan sistem pemantauan air bersih berbasis IoT. Sebanyak 20 peserta dari jajaran pengurus dan staf BUMDES Tirta Jaya Kreasi mendapatkan materi tentang cara membaca data dari 5 titik pemantauan debit air dan sistem monitoring ketinggian tandon melalui dashboard website, cara mendeteksi anomali aliran air secara dini, serta prosedur perawatan rutin sensor dan perangkat embedded system. Setiap peserta mendapatkan kit pelatihan dan modul panduan yang disusun dalam bahasa Indonesia agar mudah dipahami.

Pelatihan kedua diikuti oleh 30 peserta dan difokuskan pada perawatan panel surya sebagai sumber energi utama sistem pemantauan dan penerangan. Peserta dilatih membersihkan dan menginspeksi panel surya secara berkala, memahami sistem charge controller dan baterai, serta melakukan troubleshooting sederhana jika sistem tidak beroperasi normal.

“Kami ingin memastikan bahwa setelah tim Polinema selesai, masyarakat Wringinsongo mampu mengelola dan merawat sistem ini secara mandiri. Teknologi secanggih apapun tidak akan bermakna jika warga tidak diberdayakan untuk mengoperasikannya,” ujar Ratna Ika Putri, Ketua Tim sekaligus dosen senior Polinema.

Kolaborasi Multistakeholder

Keberhasilan serangkaian kegiatan ini tidak lepas dari sinergi erat antara tim Polinema yang diperkuat oleh Ferdian Ronilaya, Sapto Wibowo, Muhammad Akhlis Rizza, Muhammad Afif Hendrawan, Zakiyah Amalia, Dwi Ratnaningsih, dan Evi Suwarni, bersama Pemerintah Desa Wringinsongo, BUMDES Tirta Jaya Kreasi, serta dukungan institusional dari Polinema dan IEEE Humanitarian Technologies Board.

Kepala Desa Wringinsongo, Heri Firmansyah, menyatakan apresiasinya atas program yang dinilai membawa perubahan nyata dan terukur bagi masyarakat. Pemerintah desa tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga turut berkontribusi dalam pendanaan bersama dan penyediaan lahan untuk pembangunan tandon air.

Program Wringinsongo Inclusive Clean Water System merupakan bagian dari rangkaian program pengabdian masyarakat jangka panjang Polinema di Desa Wringinsongo yang telah berjalan sejak 2021. Polinema berkomitmen memberikan pendampingan teknis kepada BUMDES selama dua tahun ke depan untuk memastikan sistem berjalan optimal dan manfaatnya dirasakan secara berkelanjutan oleh seluruh warga desa.