21 Juli 2026

Dosen FISIP UNITRI Raih Gelar Doktor, Riset Podcast Perempuan Lahirkan Konsep Baru Lawan Patriarki

Dosen FISIP UNITRI, Dr. Sulih Indra Dewi, S.Sos., M.A.

Bagikan :

Reportasemalang – Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, Dr. Sulih Indra Dewi, S.Sos., M.A., resmi meraih gelar Doktor pada Program Studi Doktor Ilmu Sosial Peminatan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR). Gelar tersebut diraih melalui riset yang mengangkat peran podcast perempuan sebagai media perlawanan terhadap dominasi budaya patriarki di ruang digital.

Dalam Sidang Promosi Doktor yang digelar pada 16 Juli 2026 di Gedung FISIP UNAIR, Dr. Sulih dinyatakan lulus dengan predikat cum laude. Ia menyelesaikan studi doktor dalam waktu kurang dari empat tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,91.

Capaian tersebut menjadi prestasi akademik yang turut memperkuat kualitas sumber daya manusia di lingkungan UNITRI, khususnya Program Studi Ilmu Komunikasi. Selain mengajar, Dr. Sulih juga menjabat sebagai Kepala UPT Kerja Sama dan Kantor Urusan Internasional UNITRI.

Disertasi yang diusung berjudul “Suara Perempuan di Era Podcast: Digital Counter-Hegemony pada Praktik Podcast Perempuan di Indonesia.” Penelitian ini berangkat dari kegelisahan akademik atas masih dominannya narasi patriarki di media arus utama yang dinilai membatasi ruang perempuan dalam menyampaikan pengalaman dan perspektifnya.

Melalui penelitian tersebut, Dr. Sulih menemukan bahwa podcast telah berkembang menjadi ruang alternatif bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman hidup, membangun narasi tandingan, serta menegosiasikan identitas mereka di tengah kuatnya budaya patriarki.

Salah satu kontribusi utama riset ini adalah lahirnya konsep Digital Post-Colonial Feminism Counter-Hegemony. Konsep tersebut menjelaskan bahwa praktik podcast perempuan di Indonesia dipengaruhi oleh sejarah kolonial, budaya lokal, serta relasi kuasa yang khas.

Penelitian itu juga mengungkap masih kuatnya pengaruh state ibuism atau ibuisme negara, yakni konstruksi sosial yang berkembang sejak era Orde Baru dan menempatkan perempuan pada peran domestik tertentu. Menurut Dr. Sulih, konstruksi tersebut masih terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat sehingga bentuk perlawanan perempuan di ruang digital memiliki karakter berbeda dibandingkan negara lain.

“Awalnya saya berpikir podcast perempuan hanya menjadi ruang alternatif untuk melawan hegemoni media dominan. Namun setelah melalui proses penelitian yang panjang, saya menemukan bahwa praktik podcast perempuan di Indonesia memiliki kompleksitas yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan konsep digital counter-hegemony saja. Karena itu saya menawarkan konsep Digital Post-Colonial Feminism Counter-Hegemony sebagai perspektif baru untuk memahami bagaimana perempuan Indonesia membangun narasi dan melakukan perlawanan melalui media digital,” ujar Dr. Sulih.

Menurutnya, podcast tidak lagi sekadar menjadi media alternatif, tetapi telah berkembang menjadi ruang bagi perempuan untuk bertutur, membangun identitas, menyampaikan pengalaman personal, hingga menegosiasikan norma-norma sosial yang selama ini membatasi suara mereka.

Ketertarikannya terhadap topik tersebut juga dipengaruhi oleh pengalaman profesionalnya sebagai penyiar radio sebelum menjadi dosen. Awalnya ia berencana meneliti radio perempuan, namun perkembangan teknologi digital mengarahkan fokus penelitiannya pada podcast.

“Saya memang memiliki latar belakang sebagai penyiar radio dan pernah memproduksi podcast. Karena itu saya merasa dekat dengan media audio. Podcast memberi ruang bagi perempuan untuk berbicara tanpa harus dibatasi oleh standar kecantikan atau penampilan fisik. Yang utama adalah gagasan dan narasi yang ingin disampaikan,” katanya.

Selama menempuh studi doktor, Dr. Sulih juga memperluas wawasan akademiknya melalui berbagai kolaborasi bersama akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Malang (UM), hingga mengikuti Research Visit di University of Warsaw, Polandia. Pengalaman tersebut memperkaya perspektif keilmuan sekaligus memperkuat fondasi teoritis dalam penyusunan disertasinya.

Di balik keberhasilan tersebut, ia mengakui perjalanan studi doktor bukanlah hal yang mudah. Menjalankan peran sebagai dosen, istri, sekaligus ibu menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan keluarga dan tuntutan akademik.

“Banyak orang mengira tantangan S3 hanya soal akademik. Padahal yang jauh lebih berat adalah bagaimana kita menyeimbangkan antara urusan keluarga, pekerjaan, dan tanggung jawab lainnya. Bagi saya, S3 adalah perjalanan yang sunyi. Kita harus mampu mengatur target, memotivasi diri sendiri, dan tetap bertahan ketika menghadapi berbagai tantangan,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa perempuan kerap menghadapi tantangan yang lebih kompleks karena harus menjalankan berbagai peran secara bersamaan.

“Sebagai perempuan, kita memikul banyak peran sekaligus. Menjadi ibu, istri, dan dosen tentu membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Namun saya percaya bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, mahasiswa, dan masyarakat,” ungkapnya.

Keberhasilan Dr. Sulih meraih gelar doktor diharapkan semakin memperkuat kontribusinya dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di FISIP UNITRI. Temuan ilmiahnya juga membuka perspektif baru dalam kajian komunikasi digital, media alternatif, dan studi gender, sekaligus memperkaya khazanah riset komunikasi di Indonesia.

Sebagai Kepala UPT Kerja Sama dan Kantor Urusan Internasional UNITRI, capaian tersebut juga diharapkan mampu memperluas jejaring akademik internasional, meningkatkan produktivitas riset, serta mendorong kolaborasi penelitian yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.