Reportasemalang – Penguatan pelayanan kesehatan primer menjadi salah satu kunci untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat sekaligus menekan risiko komplikasi. Karena itu, BPJS Kesehatan terus mendorong pengembangan Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) agar pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tidak hanya berorientasi pada proses, tetapi juga hasil kesehatan peserta.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, saat menjadi pembicara utama dalam Pertemuan Nasional ADINKES 2026 bertajuk Kolaborasi Menuju Layanan Primer Kuat di Malang, Selasa (4/8/2026).
“Pengembangan KBK di FKTP tidak hanya fokus pada proses, tetapi bergeser pada outcome kesehatan. Perlu pengembangan metode pembayaran yang mendorong pengendalian kasus kronis dan penguatan FKTP. FKTP memiliki posisi strategis sebagai gatekeeper sekaligus care coordinator dalam Program JKN,” ujar Pujo.
Menurut Pujo, capaian KBK FKTP menunjukkan adanya peningkatan angka kontak, meskipun masih belum mencapai target. Di sisi lain, rasio rujukan nonspesialistik telah sesuai target. Namun, masih terdapat sejumlah kasus yang sebenarnya dapat dicegah melalui penguatan pelayanan primer, terutama pada penyakit Diabetes Melitus (DM) dan hipertensi.
Pujo menilai kedua penyakit tersebut perlu mendapat perhatian serius karena dapat memicu berbagai penyakit dan komplikasi lainnya.
“Sebagai mother of disease, Diabetes Melitus dan Hipertensi memerlukan penguatan promotif-preventif dan layanan primer, didukung sarana, prasarana, obat, serta tata kelola yang optimal untuk meningkatkan luaran kesehatan dan mencegah komplikasi maupun komorbiditas,” jelasnya.
Ia mengatakan, pengendalian penyakit kronis menjadi salah satu arah pengembangan KBK. Dengan demikian, pelayanan primer diharapkan semakin berorientasi pada hasil kesehatan peserta JKN, bukan sekadar jumlah atau proses pelayanan yang diberikan.
Ke depan, pengembangan metode pembayaran juga diarahkan untuk memperkuat keterhubungan pelayanan antara FKTP dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL).
Melalui metode pembayaran yang lebih komprehensif, pengelolaan penyakit kronis, khususnya Diabetes Melitus dan hipertensi, serta kasus geriatri diharapkan dapat dilakukan secara lebih optimal di tingkat pelayanan primer.
“JKN adalah amanat konstitusi yang dijalankan melalui kolaborasi ekosistem. JKN milik bersama. Keberhasilan Program JKN membutuhkan keterlibatan pemerintah, fasilitas kesehatan, organisasi profesi, akademisi, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan lainnya,” tegas Pujo.
Ketua Umum ADINKES, M. Subuh, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam memperkuat layanan kesehatan primer. Menurutnya, Pertemuan Nasional ADINKES 2026 menjadi ruang untuk meningkatkan kapasitas dinas kesehatan dan Puskesmas dalam mengelola layanan kesehatan sekaligus mendukung pencapaian target pembangunan kesehatan.
“Penguatan layanan primer perlu dilakukan secara terintegrasi, termasuk dalam pengendalian penyakit tidak menular. Salah satu perhatian kami adalah penguatan layanan hipertensi di FKTP melalui strategi peningkatan hipertensi terkendali, pemanfaatan data layanan, serta pengelolaan pasien yang mangkir berkunjung,” ujar Subuh.
Ia berharap penguatan layanan primer dan pengembangan KBK berbasis outcome mampu meningkatkan efektivitas pencegahan komplikasi, kualitas hidup peserta, serta capaian kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
“Penguatan layanan primer dan pengembangan KBK berbasis outcome harus menjadi upaya bersama untuk memastikan masyarakat tidak hanya mendapatkan akses pelayanan kesehatan, tetapi juga memperoleh hasil kesehatan yang lebih baik,” katanya.
Subuh menambahkan, kolaborasi antara BPJS Kesehatan, ADINKES, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan seluruh ekosistem JKN menjadi fondasi penting untuk memperkuat pengendalian penyakit kronis.
“Melalui kolaborasi BPJS Kesehatan, ADINKES, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan seluruh ekosistem JKN, kita dapat memperkuat pengendalian penyakit kronis, mencegah komplikasi, dan menurunkan risiko kefatalan penyakit,” pungkasnya.

