3 Juli 2026

Berikan Kuliah Umum di UM, Kepala BRIN Dorong Penguatan Ekosistem Riset di Perguruan Tinggi

Kepala BRIN Dorong Penguatan Ekosistem Riset di Perguruan Tinggi
Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. menyampaikan kuliah tamu

Bagikan :

Reportasemalang – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menegaskan bahwa penguatan ekosistem riset menjadi faktor utama untuk meningkatkan daya saing inovasi Indonesia di tingkat global. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah tamu di Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (3/7/2026).

Menurut Prof. Arif, terdapat sejumlah fondasi utama yang harus diperkuat agar riset nasional semakin kompetitif, yakni pendanaan riset, kualitas sumber daya peneliti (talenta), peta jalan riset (roadmap), serta ekosistem riset yang mampu menghubungkan seluruh elemen inovasi.

“Kita harus tetap optimistis di tengah berbagai keterbatasan. Yang terpenting adalah memiliki mimpi besar dan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada agar cita-cita tersebut dapat terwujud,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu indikator kemajuan inovasi sebuah negara adalah Global Innovation Index (GII). Saat ini Indonesia masih berada di peringkat ke-55 dunia sehingga diperlukan upaya bersama untuk meningkatkan posisi tersebut melalui riset dan inovasi yang berdampak.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar adalah memperkuat keterkaitan antara hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan industri agar mampu mendorong industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi.

Untuk itu, Prof. Arif mendorong setiap perguruan tinggi membangun science technopark sebagai jembatan kolaborasi antara kampus dan dunia usaha.

Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si.,

Selain itu, BRIN juga tengah menyiapkan program Rumah Inovasi Daerah di berbagai provinsi. Program tersebut akan menjadi wadah kolaborasi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku industri dalam mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal.

“Rumah Inovasi Indonesia akan diluncurkan pada September. Setelah itu, kami akan membangun Rumah Inovasi Daerah di sejumlah provinsi, termasuk Jawa Timur,” katanya.

Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak memiliki peneliti maupun laboratorium yang memadai sehingga kekuatan riset harus berasal dari perguruan tinggi. Karena itu, kampus-kampus seperti Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan perguruan tinggi lainnya diharapkan menjadi mitra strategis dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan daerah.

BRIN, lanjutnya, akan terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui pembentukan pusat-pusat kolaborasi riset sesuai bidang keunggulan masing-masing.

“Hasil riset itu harus memberi kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Kualitas sektor riil sangat ditentukan oleh kekuatan penelitian dan pengembangan (R&D),” jelasnya.

Sementara itu, Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd berkomitmen penuh untuk memperluas dan memaksimalkan potensi kerja sama strategis dengan BRIN. Langkah ini diambil guna mendorong hilirisasi riset yang berdampak langsung pada masyarakat serta melibatkan berbagai perguruan tinggi lainnya.

Menurut Prof Hariyono, kolaborasi antara akademisi UM dan peneliti BRIN sebenarnya telah berjalan dengan baik. Hingga saat ini, banyak dosen UM yang telah terlibat aktif dalam riset bersama, publikasi ilmiah, hingga menghasilkan berbagai inovasi.

“Dosen UM itu sudah banyak yang melakukan riset bersama dengan teman-teman peneliti dari BRIN. Demikian pula publikasi baik, itu sampai dengan inovasi itu sudah ada. Nah, sekarang kita ingin bagaimana ini kita maksimalkan,” ujar Prof. Hariyono.

Sebagai kampus yang memiliki keunggulan kompetitif di bidang kependidikan (subject matter), UM membidik pengembangan teknologi pembelajaran masa depan. Salah satu gagasan besar yang diusung adalah sistem pembelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang adaptif terhadap kondisi geografis Indonesia.

Prof. Hariyono menekankan pentingnya pemerataan akses digital agar ketimpangan kualitas pendidikan antara kota besar dan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) dapat dipangkas.

“Apakah tidak mungkin kita mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi daerah berbasis AI? Sehingga saudara-saudara kita, anak-anak kita di daerah terpencil hingga guru-gurunya bisa mengakses ke sini. Ini kan juga perlu kerja sama,” tuturnya.

Selain sektor pendidikan, fokus kolaborasi UM dan BRIN juga mengarah pada pemanfaatan teknologi tepat guna yang sederhana namun berdampak masif. Salah satunya adalah riset pengelolaan air hujan secara proporsional dan profesional.