23 Agustus 2026

Anggota DPR, Kepala Daerah hingga Artis Ikuti Program Sekolah Pascasarjana di UB, Ini Alasannya

Anggota DPR, Kepala Daerah hingga Artis Ikuti Program Sekolah Pascasarjana di UB, Ini Alasannya
Jajaran Publik figur yang mengikuti Program Sekolah Pasca Sarjana UB

Bagikan :

Reportasemalang – Sejumlah anggota DPR RI, kepala daerah, hingga publik figur memilih melanjutkan pendidikan di Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB). Mereka mengikuti Orientasi Pendidikan dan Kemahasiswaan (Ordik) Tahun Akademik 2026/2027 bagi mahasiswa baru yang digelar di Hall Utama Gedung A Sekolah Pascasarjana UB, Minggu (23/8/2026).

Para mahasiswa baru tersebut datang dari beragam latar belakang. Selain pejabat publik, terdapat pula kalangan profesional dan artis yang memilih UB sebagai tempat untuk memperdalam ilmu sekaligus meningkatkan kapasitas di tengah tuntutan perubahan zaman.

Anggota DPR RI

Anggota DPR RI dr. Gamal Albinsaid mengatakan pendidikan tinggi memiliki keterkaitan dengan kualitas pengambilan kebijakan. Menurutnya, semakin tinggi kapasitas pendidikan para pengambil kebijakan, semakin besar peluang lahirnya regulasi yang efektif dan berbasis ilmu pengetahuan.

“Secara saintifik, ternyata proses pendidikan yang tinggi yang dimiliki oleh orang-orang yang mendapatkan tugas atau amanah bisa berkorelasi karena berdampak pada ketajaman dalam menghasilkan regulasi-regulasi yang efektif,” ujar Gamal.

Ia menilai pendidikan juga menjadi bagian penting dari proses belajar sepanjang hayat. Terlebih, dunia saat ini menghadapi perubahan yang cepat, volatilitas tinggi, serta kompleksitas dan ambiguitas yang semakin besar.

Anggota DPR RI dr. Gamal Albinsaid didampingi Direktur Sekolah Pascasarjana UB

Gamal berharap pendidikan doktoral yang ditempuhnya dapat mempertajam kemampuan analisis dan berpikir kritis sehingga mampu memberikan kontribusi lebih efektif dalam menjalankan tugasnya di parlemen.

“Keputusan-keputusan yang diambil, dokumen-dokumen yang disampaikan, pasal yang disusun, dan pengawasan yang dilakukan bukan berbasis pada opini atau argumentasi saja, tetapi didasarkan pada proses ilmiah yang mampu mendorong evidence-based policy,” katanya.

Menurutnya, kemampuan memproduksi pengetahuan harus diikuti dengan kemampuan mendistribusikan, mendiseminasikan, hingga menghilirkan pengetahuan tersebut agar memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Wali Kota Probolinggo Targetkan Kepala OPD Bergelar Doktor

Semangat meningkatkan kapasitas melalui pendidikan tinggi juga ditunjukkan Wali Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin, Sp.OG., Subsp.K.Obginsos., M.Kes.

Ia mengungkapkan, terdapat sembilan orang dari lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo yang mengikuti program pascasarjana di UB. Mereka terdiri atas peserta program magister dan doktor.

Aminuddin bahkan memiliki target agar seluruh kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo nantinya memiliki pendidikan hingga jenjang doktor.

“Tujuannya sekolah. Kita tahu memang untuk mengubah suatu pola pikir, salah satunya adalah pendidikan. Saya melihat di beberapa kepala OPD di Kota Probolinggo yang berpendidikan S3 mempunyai inovasi dan kinerja yang lebih daripada mereka yang belum S3,” ujarnya.

Ia berharap program tersebut dapat meningkatkan persentase kepala OPD yang berpendidikan doktor. Saat ini, menurut Aminuddin, jumlah kepala OPD bergelar doktor masih berada di kisaran 40–50 persen.

“Ini semangat saya. Harapannya, hampir sebagian besar kepala OPD di Kota Probolinggo bisa S3,” katanya.

Aminuddin menyebut Pemkot Probolinggo sebelumnya membuka peluang kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi. Namun, setelah mendapatkan pemaparan dari UB, para peserta akhirnya tertarik melanjutkan pendidikan di kampus tersebut.

Wali Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin, Sp.OG., Subsp.K.Obginsos., M.Kes. bersama Istri dr. Hj. Evariani, M.Kes didampingi Direktur Sekolah Pascasarjana UB saat mengikuti Ordik

Istri Wali Kota Probolinggo Ikut Tingkatkan Kapasitas

Semangat yang sama juga ditunjukkan dr. Hj. Evariani, M.Kes., istri Wali Kota Probolinggo.

Selain mendampingi suami, Evariani memiliki sejumlah peran di organisasi kemasyarakatan dan pemerintahan, termasuk sebagai Ketua Tim Penggerak PKK. Karena itu, menurutnya, peningkatan kapasitas melalui pendidikan menjadi kebutuhan penting.

“Bagi saya, dunia saat ini kalau tidak beradaptasi dengan pendidikan tentu kita tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi dengan budaya di daerah itu masih terlalu pasif dan tidak berani berinovasi,” tuturnya.

Ia berharap peningkatan pendidikan, khususnya hingga jenjang doktor, dapat mendorong keberanian melakukan eksperimen dan inovasi dalam pemerintahan.

“Dengan meningkatnya pendidikan kita, terutama di S3, lebih kepada implementasi. Kita berharap nanti ada keberanian bagaimana kita bereksperimen. Inovasi pemerintahan akan tumbuh dan berkembang ketika semua kepala memiliki kapasitas untuk bereksperimen sesuai dengan kompetensi pendidikannya,” katanya.

Wali Kota Batu Dalami Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan

Sementara itu, Wali Kota Batu H. Nurochman, S.H., M.H., memilih bidang studi kepemimpinan dan inovasi kebijakan di Sekolah Pascasarjana UB.

Ia menilai kepala daerah membutuhkan referensi akademik yang kuat untuk merumuskan sekaligus mengimplementasikan kebijakan inovatif.

“Di sini diperlukan satu referensi bagi kami, bagaimana inovasi kebijakan itu bisa kemudian kita buat dan implementasinya bisa dilakukan,” kata Nurochman.

Wali Kota Batu H. Nurochman, S.H., M.H. ikuti Sekolah Pascasarjana di UB

Menurutnya, transformasi birokrasi bukan perkara mudah. Perubahan pola pikir di lingkungan birokrasi membutuhkan proses panjang dan dukungan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas memadai.

Nurochman juga mengungkapkan komitmennya mendorong aparatur birokrasi di Kota Batu untuk terus meningkatkan wawasan dan pendidikan.

Langkah tersebut sejalan dengan salah satu program dalam visi-misinya, yakni Program 1.000 Sarjana, yang ditujukan untuk melahirkan generasi berdaya saing di berbagai bidang.

Ia menyebut Wakil Wali Kota Batu juga mengikuti program pascasarjana UB secara daring. Selain itu, terdapat kepala dinas di lingkungan Pemkot Batu yang lebih dahulu melanjutkan pendidikan di UB.

Vicky Shu Dalami Wawasan Pertahanan

Tidak hanya pejabat publik, penyanyi Vicky Veranita Yudhasoka atau Vicky Shu juga menjadi bagian dari mahasiswa baru Sekolah Pascasarjana UB.

Vicky memilih program magister dengan fokus Wawasan Pertahanan. Pilihan tersebut berkaitan dengan latar belakang pendidikan sarjananya di bidang Ilmu Politik dan Hubungan Internasional.

“Saya dari dulu memang ingin melanjutkan S2 atau magister dengan jurusan yang terkait dengan pertahanan. Setelah melakukan pencarian, ternyata ada di Universitas Brawijaya Sekolah Pascasarjana Wawasan Pertahanan. Jadi, langsung saya mendaftar,” ungkapnya.

Vicky Syu (berdasi) saat mengikuti Ordik Sekolah Pascasarjana UB

Ia berencana melakukan riset yang berkaitan dengan dunia siber dan psikologi politik.

Menurut Vicky, konsep pertahanan tidak semata-mata berkaitan dengan pertahanan negara, tetapi juga dapat dimulai dari lingkungan terkecil, termasuk keluarga.

“Pertahanan itu tidak cuma dalam batas negara. Dari rumah tangga saja sudah ada pertahanan keluarga. Jadi, buat saya pertahanan adalah dasar yang sama untuk sebuah negara,” ujarnya.

Vicky juga mengajak masyarakat, khususnya mereka yang sudah bekerja, untuk tidak berhenti belajar.

“Semoga teman-teman semua yang masih sibuk bekerja dilancarkan pekerjaannya sehingga bisa mengambil, melanjutkan sekolah juga. Karena sebetulnya sekolah itu seru dan pastinya bisa menambah ilmu dan wawasan baru,” katanya.

Kehadiran para pejabat, profesional, dan publik figur dalam program pascasarjana UB tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya menjadi sarana memperoleh gelar, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas kepemimpinan, inovasi, serta kualitas pengambilan kebijakan.