Search
Close this search box.
14 Juli 2024

Universitas Brawijaya Kukuhkan Empat Profesor dari Fakultas Pertanian, FISIP dan FEB

Bagikan :

Reportasemalang – Universitas Brawijaya (UB) kembali menambah jumlah Guru Besar dengan mengukuhkan empat Profesor baru di Samantha Krida, Rabu (21/2/2024). Di antaranya Prof.Dr.lr Sitawati, M.S (FP), Prof. Dr. Ali Maksum., M.Ag.,M.Si. (FISIP), Prof. Dr. Ir. Nur Edy Suminarti,MS (FP) dan Prof. Dr. Wuryan Andayani, CA., CSRS., CSRA (FEB).

Prof.Dr.lr Sitawati, M.S

Reportasemalang
Prof.Dr.lr Sitawati, M.S. (Foto:Ist)

Prof. Dr. Ir. Sitawati, M.S dikukuhkan sebagai profesor pada bidang Ilmu Hortikultura. Prof. Dr. lr. Sitawati, M.S. merupakan Profesor aktif ke 33 di Fakultas Pertanian (FP) dan Profesor aktif ke 208 di Universitas Brawijaya. Serta menjadi Profesor ke 371 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan Universitas Brawijaya.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Sitawati mengangkat judul ‘Hortikultura Lanskap Model 3E (Estetika-Ekologis-Ekonomis) sebagai Solusi Kenyamanan Lingkungan Perkotaan’.

Dijelaskan Prof Sitawati, Hortikultura Lanskap merupakan bagian dari ilmu Hortikultura yang khusus mempelajari tentang penataan tanaman untuk mengatur dan mendapatkan lingkungan yang estetik. Sedangkan Hortikulura Lanskap Model 3E (Estetika-Ekologis-Ekonomis), merupakan pengembangan dari hortikultura lanskap yang menambahkan nilai ekologis dan ekonomis.

Menurutnya, Hortikultura Lanskap 3E menjadi penting mengingat pada saat ini populasi penduduk di perkotaan meningkat dengan perkiraan sekitar 53% penduduk bertempat di perkotaan.

“Maka kebutuhan lingkungan tidak hanya estetika dengan tampilan bentuk, struktur vegetasi dan arsitektur tanaman yang indah, namun juga ekologis dan ekonomis,” jelasnya.

Pada Hortikultura Lanskap 3E, keberadaan tanaman di perkotaan akan menambah luas Ruang Terbuka Hijau (RTH), menurunkan Urban Heat Island (UHI) dan meningkatkan Temperature Humidity Index (THI). Sehingga akan memberikan kenyamanan bagi penduduk di perkotaan daripada Hortikultura Lanskap yang hanya menampilkan keindahan.

“Di sisi lain, dengan populasi urban yang tinggi, keterbatasan lahan dan kebutuhan ekonomi yang kompetitif. Hortikultura Lanskap 3E dengan pemilihan jenis tanaman yang mempunyai nilai ekonomi, akan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat di daerah urban yang mempunyai keterbatasan ekonomi,” tandasnya.

Prof. Dr. Ali Maksum., M.Ag.,M.Si.

Reportasemalang
Prof. Dr. Ali Maksum., M.Ag.,M.Si. (Foto:Ist)

Prof. Dr. Ali Maksum., M.Ag.,M.Si. dikukuhkan sebagai profesor bidang Sosiologi. Prof. Dr. Ali Maksum, M.Ag., M.Si. menjadi Profesor aktif ke 4 di Fakultas llmu Sosial dan llmu Politik (FlSlP). Dan Profesor aktif ke 209 di Universitas Brawijaya serta menjadi Profesor ke 372 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya.

Dalam pidato pengukuhannya Prof. Dr. Ali Maksum., M.Ag.,M.Si. mengangkat ‘Model Transformasi Sosial Profetik Untuk Masyarakat Sipil Berkeadaban’.

Prof Ali Maksum menyampaikan, model transformasi sosial profetik muncul sebagai respon atas kegelisahan kondisi sosial. Persoalan fragmentasi sosial, kesenjangan, konflik, dan krisis lingkungan hidup di basis akar rumput mendesak untuk ditemukannya solusi aktual dan implementatif.

Kejadian di akar rumput sejak lahirnya Reformasi dimulai dari kontestasi politik yang telah mempolarisasi masyarakat pada dimensi politik dan ekonomi. Selain itu kesenjangan ekonomi di Indonesia yang dilaporkan World Inequality Report pada tahun 2022 yang tidak berubah selama dua dekade terakhir.

“Respon atas persoalan tersebut hadir dalam gagasan model transformasi sosial profetik. Model transformasi ini beranjak dari refleksi kritis dan elaborasi konsepsi antara transformasi sosial dan nilai profetik,” terangnya.

Unsur-unsur pembentuk model ini terdiri dari integrasi antara nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat sipil dan nilai-nilai profetik. Unsur-unsur tersebut dapat bekerja secara baik apabila didukung oleh pilar-pilar perubahan yang terdiri dari tiga elemen: struktur, kultur, dan agen pada dimensi sosial makro, meso, dan mikro.

“Melalui model transformasi ini diharapkan terbangun relasi sosial masyarakat sipil yang berkeadaban,” tuturnya.

Kelebihan model transformasi sosial profetik terletak pada optimalisasi nilai moral dan spiritual, menggunakan pendekatan holistik, dan memerlukan kolaborasi masyarakat sipil dan negara.

“Sedangkan kelemahannya terletak pada masih kuatnya konservatisme agama dan budaya, keberagaman isu masyarakat sipil, dan tidak setiap pemimpin maupun individu menerima nilai-nilai profetik,” ungkapnya.

Prof. Dr. Ir. Nur Edy Suminarti,MS

Reportasemalang
Prof. Dr. Ir. Nur Edy Suminarti,MS. (Foto:Ist)

Prof. Dr. Ir. Nur Edy Suminarti,MS dikukuhkan sebagai profesor bidang Ilmu Agrometeorologi.
Prof. Dr. lr. Nur Edy Suminarti, M.S. menjadi Profesor aktif ke 34 di Fakultas Pertanian (FP) dan Profesor aktif ke 210 di Universitas Brawijaya. Serta menjadi Profesor ke 373 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Dr. Ir. Nur Edy Suminarti,MS mengangkat judul ‘Metode PM-BWEB Untuk Pengembangan Tanaman Talas Dompol Di Lahan Kering’.

Dijelaskan, Umbi talas sebagai bahan pangan fungsional, terutama untuk penderita diabet. Tanaman talas dompol biasanya ditanam petani pada awal musim penghujan dengan mengikuti budaya lokal menggunakan sistem kalender pranoto-mongso tradisional (PMT). PMT ini mendasarkan pada gejala perubahan alam untuk penentuan musim tanamnya.

“Pranoto- mongso merupakan kalender bercocok tanam sederhana yang dapat diterapkan di lahan kering, lahan sawah tadah hujan, maupun lahan sawah irigasi semi teknis,” jelas Prof Nur Edy.

Adanya perubahan iklim global menyebabkan metode PMT ini kurang akurat karena indikator untuk penentuan waktu tanam tidak muncul kembali. Oleh karena itu diperlukan data iklim untuk menyusun analisis neraca air yang akan digunakan sebagai penentu waktu tanam. Data iklim diakses melalui website BMKG, yang kemudian disebut sebagai metode pranoto-mongso berbasis website (PM-bweb)

Metode pranoto-mongso yang berbasis website (PM-bweb) merupakan salah satu metode yang perlu dikembangkan di era perubahan iklim global saat ini yang penentuan musim tanamnya didasarkan pada analisis neraca air.

“Secara klimatologis, neraca air betujuan untuk mengetahui jumlah netto air yang diperoleh. Serta untuk mengetahui berlangsungnya periode basah (surplus) maupun periode kering (defisit) pada suatu wilayah dan waktu tertentu,” terangnya.

Keunggulan dari metode pranoto-mongso web (PM-bweb) adalah membantu dan mendorong pekerjaan menjadi lebih efisien dan efektif, informasi mudah didistribusikan dan lebih murah. Serta lebih powerfull, mudah di up-date, akses informasi lebih mudah, mudah pengembangannya, dan lebih aman.

Sedangkan kelemahannya yakni diperlukan jaringan internet untuk dapat mengakses data melalui website. Dimana jaringan internet belum tersedia pada semua wilayah di Indonesia sehingga data unsur-unsur iklim yang lengkap hanya tersedia dan dapat diakses melalui stasiun klimatologi besar saja (kelas 1 dan 2).

Selain itu pengetahuan tentang pengaksesan data melalui website (internet) maupun pengetahuan tentang analisis neraca air juga belum dimiliki oleh semua petani di Indonesia. Gangguan hama penyakit yang terkait dengan perubahan iklim belum diperhitungkan dalam metode ini.

Prof Nur Edy berharap, dengan diterapkannya metode PM-bweb ini adalah agar petani dapat menentukan waktu tanamnya sendiri secara tepat. Serta mampu menentukan jenis komoditas yang akan ditanam sesuai dengan hasil analisis neraca airnya.

“Selain itu, diharapkan petani dapat merencanakan bentuk pola tanam yang akan diterapkan, kegagalan panen dapat dihindari, produktivitas tanaman dapat ditingkatkan, dan program ketahanan pangan segera dapat terwujud,” pungkasnya.

Prof. Dr. Wuryan Andayani, CA., CSRS., CSRA

Reportasemalang
Prof. Dr. Wuryan Andayani, CA., CSRS., CSRA. (Foto: Ist)

Prof. Dr. Wuryan Andayani, CA., CSRS., CSRA dikukuhkan sebagai Profesor di bidang Ilmu Akuntansi. Prof. Dr. Wuryan Andayani, CA., CSRS., CSRA menjadi Profesor aktif ke 29 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Profesor aktif ke 211 di Universitas Brawijaya serta menjadi Profesot ke 374 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Dr. Wuryan Andayani, CA., CSRS., CSRA mengangkat judul
‘Octuple Bottom Line (OBL) Sebagai Instrumen Untuk Mendukung Terciptanya Keberlanjutan Kesejahteraan Bumi dan Manusia’.

Dijelaskan, model keberlanjutan OBL merupakan sinergi dari Sustainable Development Goals, Triple Bottom Line (People, Planet, Profit/3P) dan Pentuple Bottom Line (2P, Phenotechonology, Prophet). Dimana pembangunan tidak hanya difokuskan pada pencapaian ekonomi, tetapi harus memperhatikan 8 (delapan) pilar pembangunan berkelanjutan lainnya.

Nilai-nilai Octuple Bottom Line yang merupakan 8 (delapan) pilar Pembangunan berkelanjutan meliputi people, planet, profit, phenotechnology, prophet, power, peace-loving dan partnership.

“Delapan pilar pembangunan berkelanjutan melibatkan pencapaian ekonomi, sosial, lingkungan, kesadaran akan adanya Tuhan, spiritualitas, pentingnya teknologi informasi, dorongan kekuatan pikiran yang sehat, perdamaian dan keadilan, serta kemitraan,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi dunia saat ini terutama di forum Dewan Keamanan PBB, Power, Peace-Loving, dan Partnership saling terkait satu sama lain dalam mengatasi konflik di negara-negara dan hubungan diplomatik antarnegara di dunia.

Kekuatan Peace-Loving dapat menciptakan rasa cinta damai sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan No. 16 yaitu tentang perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh. Kekuatan konsep ini, memberikan jaminan akses terhadap keadilan, inklusif, partisipatif dan representatif di semua masyarakat dan juga menekankan pada pemenuhan Hak Asasi Manusia, tidak ada diskriminasi, memperhatikan kaum marginal dan difabel, serta pentingnya kolaborasi semua pemangku kepentingan.

“Strategi CSR dilaksanakan untuk mendukung TPB/SDGs dan memahami relevansi keberlanjutan,” tuturnya.

Konsep OBL memiliki keunggulan untuk menciptakan strategi Corporate Social Responsibility (CSR) dengan mensinergikan pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/SDGs dan Pentuple Bottom Line.

“Kelemahan OBL adalah membutuhkan konsistensi, kesepakatan bersama dan waktu untuk bisa tercapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia yaitu tahun 2030 dan menuju Indonesia Emas tahun 2045,” tandasnya.