Search
Close this search box.
17 Juli 2024

Universitas Brawijaya Kukuhkan Dua Profesor Baru dari FT dan FTP

Reportasemalang
Prosesi pengukuhan Profesor. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Bagikan :

ReportasemalangKota Malang, Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan dua orang professor, Selasa (31/5/2022). Mereka adalah Prof Dr Eng Moch. Agus Choiron ST MT dari Fakultas Teknik (FT) dan Prof Yusuf Hendrawan STP MApp Life Sc PhD dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP).

Bertempat di gedung Samanta Krida, Prof Agus Choiron dikukuhkan sebagai Profesor ke-16 dari FT dan ke 165 di UB serta menjadi professor ke 293 dari seluruh professor yang telah dihasilkan oleh UB.

Sedangkan Prof Yusuf Hendrawan merupakan professor aktif ke-12 dari FTP dan Professor aktif ke-166 di UB sekaligus menjadi professor ke 294 dari seluruh professor yang dihasilkan oleh UB.

Dalam pemaparannya Prof Moch. Agus Choiron, menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul “Rekayasa Desain Hexagonal Crash Box Untuk Short Crushable Zone Dengan Simulasi Komputer”.

Dua profesor baru UB yang baru dikukuhkan Prof Moch. Agus Choiron dan Prof Yusuf Hendrawan. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Disampaikan Prof Agus Choiron, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah mobil penumpang mengalami peningkatan sebesar 6,1persen dengan jumlah sebanyak 15.592.419 unit pada tahun 2019. Sayangnya peningkatan tersebut berbanding lurus dengan tingginya angka kecelakaan di Indonesia, yang mencapai 116.411 kasus dan cenderung meningkat sebesar 4.87% pada tahun 2019.

Karenanya, perangkat keselamatan kendaraan dengan performa dan tingkat keselamatan sangat dibutuhkan, khususnya arah frontal. Salah satunya Crash box, sebuah perangkat keselamatan pasif yang terletak di antara bumper dan frame yang berfungsi sebagai penyerap energi impak ketika terjadi tabrakan

“Crash box berupa struktur berdinding tipis yang diharapkan mengalami deformasi permanen untuk menyerap energi impak akibat tabrakan,” jelasnya.

Menurutnya, riset penggunaan Carbon Fiber sebagai material crash box memiliki prospek yang menjanjikan sebagai struktur crash absorber di masa depan. Apalagi pola deformasi yang terjadi pada crash box dengan material dari komposit berbeda dengan crash box dengan material logam.

“Kami merumuskan model desain hexagonal crash box untuk short crushable zone. Yang terdiri dari multi-cell foam filled, multi-cell composite, multi-cell hybrid dan honeycomb filled dengan peningkatan kemampuan penyerapan energi yang signifikan dengan struktur ringan,”ungkapnya.

Model desain crash box ini merupakan pengembangan model hexagonal dengan panjang crash box 120 mm yang dikembangkan dengan simulasi komputer. Pengembangan desain dilakukan dengan mengadopsi Teknik ALD (Analysis Led Design) dan virtual desain yang telah dilakukan secara efektif pada rekayasa desain corrugated metal gasket.

“Keunggulan pengembangan model dengan simulasi komputer ini adalah mempercepat proses pengembangan produk dengan pengurangan trial and error. Sedangkan kelemahan dari model desain ini adalah tantangan kompleksitas bentuk desain sehingga diperlukan proses manufaktur yang presisi untuk memproduksi prototypenya,” tandasnya.

Sementara itu Prof Yusuf Hendrawan menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Pemanfaatan Intelligent Bio-Instrumentation System dalam Pengembangan Pertanian Presisi di Era Revolusi Industri 4,0.

Pada orasi ilmiah tersebut, Prof. Yusuf Hendrawan merumuskan metode pengukuran objek hayati khususnya objek pertanian yang dinamakan Intelligent Bio-Instrumentation System (IBIS).

“IBIS merupakan sebuah metode pengukuran objek hayati melalui analisis gambar digital yang didapatkan dari kamera digital. Analisis gambar digital ini menggunakan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan,” terangnya.

Menurutnya, keunggulan dari IBIS adalah metode pengukuran yang tidak merusak objek pertanian yang diamati. Lebih akurat, mudah digunakan, dapat dimanfaatkan dalam sistem kontrol pertanian supaya lebih efektif, alat pengukuran yang lebih murah, dan prosedur pengukuran yang lebih sederhana jika dibandingkan dengan metode pengukuran konvensional.

Sedangkan, Kelemahan dari metode IBIS yang telah dikembangkan adalah penggunaan kamera dan jenis pencahayaan yang masih sederhana saat pengambilan gambar objek pertanian. Kombinasi antara berbagai jenis kamera cahaya tampak maupun kamera cahaya tidak tampak serta variasi jenis pencahayaan akan dapat meningkatkan kinerja IBIS.

Disebutkan, di era revolusi industri 4,0 telah banyak dikembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Penerapan kecerdasan buatan pada bidang pertanian telah terbukti bermanfaat sebagai sistem kontrol pertanian menuju pertanian presisi.

“Pengembangan IBIS ini telah dimulai sejak tahun 2008 yang dimulai dengan penelitian-penelitian yang berfokus pada analisis citra digital untuk produk pertanian dengan menggunakan kamera digital sederhana seperti web camera,” ucapnya.

Selanjutnya, di tahun 2012 hingga 2019, penelitian-penelitian Prof. Yusuf Hendrawan mengarah pada pemanfaatan kecerdasan buatan berbasis computer vision untuk mengembangkan metode IBIS. Selain dimanfaatkan untuk proses pra-panen, pemanfaatan IBIS sudah mulai dikembangkan untuk pengukuran kualitas produk-produk pasca-panen.

Kemudian sejak tahun 2020 hingga sekarang, Prof Yusuf Hendrawan memanfaatkan metode IBIS untuk pengembangan pertanian presisi. Kemampuan IBIS untuk mengidentifikasi respon tanaman kemudian dimanfaatkan untuk membangun sistem komunikasi yang efektif dengan objek pertanian atau yang dinamakan sebagai metode Speaking Plant Approaches (SPA).

“Ketika kita dapat berkomunikasi dengan tanaman, maka kita akan mengetahui kebutuhan hidup tanaman secara akurat. Dampaknya adalah tanaman dapat tumbuh secara lebih optimal dan dapat menghemat pemakaian energi, pupuk, dan bahan-bahan pertanian lainnya,” pungkasnya. (Agus N)