12 Februari 2026

UB Tambah Deretan Jumlah Profesor Baru dari Berbagai Bidang Ilmu

UB Tambah Deretan Jumlah Profesor Baru dari Berbagai Bidang Ilmu
Profesor baru UB yang dikukuhkan pada Selasa (10/2/2026).

Bagikan :

Reportasemalang – Universitas Brawijaya (UB) kembali menambah deretan Guru Besar dengan mengukuhkan lima profesor dari berbagai bidang ilmu yang digelar di Gedung Samantha Krida, Selasa (10/2/2026).

Kelima profesor tersebut adalah Prof. Dra. Trisilowati, M.Sc. (FMIPA), Prof. Defri Yona, S.Pi., M.Sc.stud., D.Sc (FPIK), Prof. Dr. Eng. Fadly Usman, MT (FT), Prof.Dr.Eng.Ir. Riyanto Haribowo, ST., MT., IPM., ASEAN Eng. (FT), dan Prof. Achmad Efendi, S.Si., M.Sc.Ph.D. (FMIPA).

Prof. Dra. Trisilowati, M.Sc.

Dalam orasi ilmiahnya, Pakar Matematika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dra. Trisilowati, M.Sc. mengembangkan model kontrol optimal bernama SVEIAQHR sebagai strategi mitigasi penyebaran COVID-19 di masyarakat. Model ini mengintegrasikan tiga instrumen utama, yakni vaksinasi, edukasi, dan karantina secara simultan.

Dijelaskan Prof Trisilowati, model ini hadir sebagai respons atas tantangan kesehatan global akibat virus SARS-CoV-2 yang menyebar cepat melalui tetesan renik (droplet).

“Pendekatan kontrol optimal ini bertujuan menekan jumlah populasi terinfeksi sekaligus meminimalkan biaya pelaksanaan intervensi, sehingga sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efektif,” ujarnya.

Inovasi utama dalam penelitian ini adalah penggunaan model orde fraksional. Metode ini diklaim mampu merepresentasikan tren data kasus aktif dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan model standar.

“Kontribusi ini diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah bagi perumusan kebijakan pengendalian penyakit menular dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi potensi wabah di masa depan,” pungkasnya.

Prof. Dra. Trisilowati, M.Sc., Ph.D.dikukuhkan sebagai Profesor aktif ke 39 di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Profesor aktif ke 251 di Universitas Brawijaya serta menjadi Profesor ke 443 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya.

Prof. Defri Yona, S.Pi., M.Sc.stud., D.Sc

Merupakan Profesor aktif ke 28 di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Profesor aktif ke 252 di Universitas Brawijaya serta menjadi Profesor ke 444 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya.

Dalam orasi ilmiahnya Prof Defri mengangkat judul KERIS-LAUT: Membangun Kerangka Resiko Integratif Untuk Pengendalian Pencemaran Laut Indonesia.

Kerangka KERIS-LAUT disampaikan Defri, menyediakan dasar ilmiah untuk mengidentifikasi hotspot pencemar, menentukan prioritas penanganan, serta merancang strategi mitigasi yang sesuai dengan karakteristik ekosistem dan tingkat risiko.

“Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, kerangka ini relevan menjembatani skala lokal dan regional serta mengaitkan isu pencemaran dengan keamanan pangan dan kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Prof. Dr. Eng. Fadly Usman, MT

Merupakan Profesor aktif ke 34 di Fakultas Teknik, Profesor aktif ke 253 di Universitas Brawijaya serta menjadi Profesor ke 445 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya. Prof. Fadly Usaman dikukuhkan sebagai profesor di bidang Ilmu Manajemen Kebencanaan.

Dalam pidato pengukuhannya, ia mengangkat Model KOSTAL: Strategi Penataan dan Mitigasi Kawasan Pesisir Rendah Resiko Bencana.

Dijelaskan Prof Fadly, Kapasitas Orang Siaga Tsunami Amati Laut atau Model KOSTAL menitikberatkan pada peningkatan kapasitas masyarakat siaga bencana melalui optimalisasi teknologi informasi yang ramah biaya.

“KOSTAL sendiri adalah kesiapsiagaan orangnya. Orangnya harus ditingkatkan kapasitasnya. Masyarakat harus kenal tanda-tanda sebelum terjadi tsunami” tuturnya.

la mencontohkan sebagaimana di Pulau Simeulue yang selamat dari tsunami Aceh 2024 karena kesadaran mereka melalui budaya lokal mengenai tanda-tanda bencana. Demikian pula kewaspadaan tersebut juga dimiliki masyarakat Jepang.

Pengembangan model ini berkembang dari penelitiannya menata kawasan pantai dan pesisir dengan menata daerah aman serta terdampak. Dalam perjalanannya melakukan penelitian dia berpikir ternyata masyarakat itu lebih penting.
Antara tahun 2019-2024 ia mengembangkan alat Early Warning System (EWS) yang bisa diproduksi Desa sendiri.

Prof.Dr.Eng.Ir. Riyanto Haribowo, ST., MT., IPM., ASEAN Eng.

Prof.Dr.Eng.Ir. Riyanto Haribowo, ST., MT., IPM., ASEAN Eng. merupakan profesor dalam bidang ilmu Kualitas Air dan Lingkungan yang tercatat sebagai profesor ke- 35 di Fakultas Teknik dan menjadi profesor ke-446 di Universitas Brawijaya.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof Riyanto mengangkat judul River Index untuk Pengukuran Kualitas Perairan Tropis.

Untuk memastikan kualitas air yang memadai, dibutuhkan kerangka penilaian tropis yang menggabungkan mikroplastik, parameter fisik dan kimia air serta tata guna lahan. Inilah yang ditawarkan Prof. Dr.Eng. Ir. Riyanto Haribowo, ST., MT., IPM., ASEAN Eng melalui River Index.

“Kerangka ini disusun melalui sintesis lintasan riset mikroplastik dalam konteks krisis kualitas air dan meningkatnya risiko ekologis perairan tropis, berbasis studi kasus di sungai perkotaan, kawasan permukiman, industri, pertanian, dan sistem pengelolaan limbah,” kata dosen Fakultas Teknik ini.

Kebaruan RIVER-INDEX terletak pada pemosisian mikroplastik bukan hanya sebagai pencemar baru, tetapi sebagai penguat risiko ekologis ketika berinteraksi dengan tekanan kualitas air dan tata guna lahan.

“Dengan pendekatan ini, mikroplastik dipahami sebagai bagian dari dinamika sistem perairan, bukan sebagai komponen yang berdiri sendiri,” tandasnya.

Prof. Achmad Efendi, S.Si, M.Sc, Ph.D

Mengangkat judul orasi ilmiah ixed Model: Model Campuran Untuk Klasifikasi Dengan Hybrid PCA Dan ICA

Statistika mempelajari pengumpulan, manajemen, dan analisis data, serta interpretasi analisisnya. Data disini bisa berasal dari berbagai bidang, antara lain: biomedis (biologi, kedokteran, keperawatan dst), biometrika (pertanian, peternakan, perikanan dst), ekonomi (perbankan, kependudukan, dll), sosial (administrasi, politik, sosial kemasyarakatan, dll) yang semuanya memerlukan analisis dan komputasi.

Pemodelan dengan mixed model ini lebih kepada campuran efek yang fixed dan random atau acak. Dalam kontek lebih sempit, mixed model disini mengacu pada model hybrid PCA (Pricipal Component Analysis) dan ICA (Independent Component Analysis).

PCA dan ICA fungsinya untuk mengukur komponen utama mana yang lebih layak dipakai, membuat semua variabel prediktor menjadi independen, dan reduksi dimensi data. Pemodelan dapat berupa estimasi dan prediksi serta simulasinya.

“Penelitian kami telah dilakukan pada data bertingkat, antara lain: data penyakit kuku (pada beberapa jari per individu), angka kemiskinan (kabupaten, propinsi, beberapa tahun), kinerja kredit bank (cabang, regional), polling (anggota keluarga, keluarga, komunitas, daerah), nilai saham (perusahaan, bidang usaha, daerah, beberapa waktu), dan angka kemiskinan (nasional, daerah),” pungkasnya.