Search
Close this search box.
11 Juli 2024

Tim Peniliti Dosen UM dan UNM Kolaborasi Rekontruksi Tari Kembangan Jaranan Dor

Tari Kembangan Kreasi Jaranan Bromo Tengger Semeru. (Foto:Ist /reportasemalang)
Tari Kembangan Kreasi Jaranan Bromo Tengger Semeru. (Foto:Ist /reportasemalang)

Bagikan :

ReportasemalangKota Malang, Tim penelitian dosen Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Negeri Makasar (UNM) berkolaborasi melaksanakan penelitian Rekontruksi Tari Kembangan Jaranan Dor. Khususnya yang ada di Kelompok Tugusari Panggung Rejo di Tumpang.

Tim peneliti ini diketuai Dra Endang Wara Suprihatin Dyah Pratamawati MPd dan beranggotakan Dr Robby Hidajat MSn, Dra Yuliati MHum, Drs Sumarwahyudi MSn, Dr Heriyati Yatim MPd.

Disampaikam Ketua Tim, Dra Endang Wara Suprihatin Dyah Pratamawati MPd, penelitian ini mengambil judul “Rekonstruksi Kerangka Estetika Performance Jaranan Kreasi BTS Tumpang untuk Pengembangan Pariwisata di Kabupaten Malang,”.

Dra Endang Wara Suprihatin Dyah Pratamawati bersama para penari dan pemusik. (Foto: Ist/reportasemalang)
Dra Endang Wara Suprihatin Dyah Pratamawati bersama para penari dan pemusik. (Foto: Ist/reportasemalang)

Dijelaskan Wara sapaan akrabnya, umumnya, pertunjukan tari jaranan durasinya sangat lama. Tapi timnya hanya mengambil di bagian tari kembangan saja di sesi pertama.

“Kemudian kami rekonstruksikan, sehingga menjadi hanya sekitar 10 menit. Dengan nama Tari Kembangan Kreasi Jaranan Bromo Tengger Semeru, jelasnya di Kampung Sanan, Minggu (11/6/2023).

Ada tujuh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik yang dilibatkan sebagai penari. Sementara untuk pemusiknya tergabung dalam grup Laksana Manggala, dan satu orang Sinden juga dari mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik.

Menurut Wara, jaranan aslinya tidak pakai rias dan gerakannya juga tidak dinamis. Karena disesuaikan dengan karakter disana yang tradisional.

“Tapi karena kami dari akademisi maka beberapa gerakan kami kembangkan, kemudian ditambah dengan elemen-elemen estetis dalam sebuah koreografi. Termasuk beberapa ragam dari topeng Malang yang kita masukkan di situ,” terangnya.

Lebih lanjut Wara mengatakan, hasil karya penelitian yang menghasilkan produk ini nantinya akan disosialisasikan ke masyarakat. Bahwa ternyata Jaranan yang sesederhana itu bisa dikembangkan lebih estetis. Baik dari isi musiknya, maupun gerakannya.

“Karena kedepannya kami ingin tarian ini bisa menjadi tarian sajian wisata untuk menyambut wisawatan yang datang ke Tumpang,” ucapnya.

“Nantinya juga akan kami jadikan sebagai media pembelajaran untuk mata kuliah seni pertunjukan dan pariwisata,” pungkasnya.