Search
Close this search box.
11 Juli 2024

Semangat “Puro Luhur Junjung Budoyo Ronggowuni” Lestarikan Jaranan Dor

Reportasemalang
Anggota Puro Luhur Junjung Budoyo Ronggowuni. (Foto: Ist/reportasemalang)

Bagikan :

ReportasemalangKota Malang, Kesenian tradisional rakyat kuda lumping seakan tak lekang oleh waktu. Sekaligus tidak bisa terlepas dari sebuah karakteristik masyarakat dari sebuah daerah.

Begitu juga daerah Malang memiliki kesenian tradisional rakyat yang sangat khas yaitu “Kuda lumping khas Malang” yang biasa disebut jaranan Dor. Sebab salah satu Instrumen pada kesenian ini terdapat “jidor” atau bedug. Yaitu alat musik bermembran kulit hewan sapi bernada rendah.

Memiliki 3 warna yaitu putih (seto), merah (wreto) dan hitam (cemani) yang menggambarkan sebuah proses bergulirnya kehidupan, menjadi daya tarik tersendiri dan sekaligus pembeda dengan kesenian kuda lumping yang ada di daerah lain.

Reportasemalang
Pertunjukan jaranan dor. (Foto: Ist/reportasemalang)

Terdapat juga Pecut Khas Malang sebagai pelengkap penari. Adalah sebuah senjata bagaikan seorang kesatria berkuda yang berlaga saat di medan pertempuran.

Maraknya kesenian rakyat di Malang pada saat itu (2004-2006), kemudian memunculkan sebuah paguyuban kesenian “Puro Luhur Junjung Budoyo Ronggowuni” dari daerah Lesanpuro, Kecamatan Kedung kandang Kota Malang. Dengan beranggotakan sekumpulan anak muda dari sejumlah wilayah di Malang yang tergerak untuk turut serta melestarikan dan mempertahankan seni budaya tradisi daerah.

Ketua paguyuban, Widodo menjelaskan, nama Puro Luhur Junjung Budoyo Ronggowuni sendiri bermakna Para pemuda Lesanpuro yang mencoba mengangkat atau menjunjung luhurnya budaya.

Sedangkan Ronggowuni sendiri di ambil dari nama salah satu raja ke empat Singhasari sebelum ternobatkan menjadi sang raja yaitu Sri Jaya Wisnuwardhana pada Tahun 1248.

“Paguyuban Puro Luhur Junjung Budoyo Ronggowuni terlahir secara administrasi pada 2009. Yang ditandai dengan dikeluarkannya Nomor Induk Kesenian oleh Dinas Kebudayaan dan pariwisata pada saat itu,” jelasnya.

“Paguyuban ini beranggotakan sekitar 50 personel yaitu Nurcahyono sebagai pembina, Widodo pada Ketua, Rio Ari W Sekretaris dan Sahrul FA sebagai Bendahara,” imbuhnya.

Menurut Widodo, dengan tumbuh pesatnya perkembangan era dan jaman, Puro Luhur Junjung Budoyo Ronggowuni bertahan dengan segala bentuk kesulitan dan himpitan di tengah era globalisasi. Seperti mulai berkurangnya lahan untuk pementasan atau pergelaran karena pesatnya pembangunan. Yang mengakibatkan sulitnya mencari lahan atau tempat pergelaran.

“Kendati demikian mereka adalah para kesatria milenial yang pantang menyerah. Sebab mereka mampu mempertahankan sekaligus melestarikan sebuah warisan kesenian tradisional,” pungkasnya. (Agus N)