Search
Close this search box.
11 Juli 2024

ITN Malang Dukung Penataan Kawasan Soekarno Hatta Jadi Wisata Milenial

Reportasemalang
Perbincangan Intens Tata Ruang (Pintar). (Foto: Ist)

Bagikan :

Reportasemalang.com – Penataan kawasan di sepanjang Jalan Sukarno Hatta (Soehat) Kota Malang menjadi bahasan menarik pada seminar “Perbincangan Intens Tata Ruang (Pintar)” Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Mengambil tema “Wisata Milenial Jalan Soekarno Hatta Kota Malang”, Pintar tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa PWK ITN Malang, namun juga mahasiswa dari kampus lain.

Menghadirkan tiga pembicara, yakni PJ Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM; Prof. Dr. Ir. Surjono, MTP., dosen Univ Brawijaya, dan Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT, dosen PWK ITN Malang sekaligus Praktisi Ahli Perencanaan Indonesia (IAP).

Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto ST., MT., Ph.D., menerangkan, tata ruang tidak bisa berdiri sendiri melainkan harus terintegrasi dengan bidang lainnya. Dengan sinergi antara pemerintah daerah dan akademisi rektor yakin impian mewujudkan kota yang nyaman, dan kota pendidikan yang representatif bisa terwujud.

“Harus ada komitmen dari semua pihak. Kami berharap permasalahan-permasalahan di Kota Malang, baik itu banjir, parkir, kemacetan akan teratasi dengan adanya sinergi dari semua pihak. Kami ITN Malang siap mendukung Pemerintah Kota Malang untuk mewujudkan Kota Malang nyaman, bersih, dan rapi,” ujarnya di Aula Kampus 1 ITN Malang, Sabtu (18/05/2024).

Sementara itu, Pj Wali Kota Malang Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM., menjelaskan kawasan Jalan Soekarno Hatta memiliki potensi yang besar untuk dijadikan wisata milenial, sekaligus memecah konsentrasi keramaian di Kayutangan Heritage. Adanya permasalahan di Soehat dengan berbagai permasalahannya juga perlu segera dipecahkan.

“Saat ini potensinya (Soehat) tinggi, dari kalangan mahasiswa, ada kafe dan lain-lain. Nanti akan kami atur. Selama ini terjadi kemacetan, dan permasalahan lainnya akan dicarikan solusi,” tuturnya.

Wahyu juga mengapresiasi ITN Malang yang memberi respon positif terhadap permasalahan di Kota Malang. Sehingga bisa diadakan seminar dengan mengundang pakar dari UB, ITN, dan ada juga penyanggah dari IAP duduk bersama membahas terutama tentang kemacetan dan mengatur Kawasan Sukarno Hatta.

Wahyu menyebutkan, Kawasan Soehat sudah cukup siap untuk ditata menjadi kawasan wisata khusus milenial. Kawasan ini memiliki konsep berbeda dengan Kawasan Kayutangan Heritage yang berkonsep kolonial.

“Kalau nanti (wisata) diarahkan ke Kawasan Soehat tentunya kami akan duduk bersama dengan masyarakat, perguruan tinggi untuk bisa menyelesaikan. Sekaligus mencari solusi terhadap permasalahan di Soehat. Seperti kemacetan bisa dihindari apabila ada perencanaan yang matang. Ini baru awal nanti ada pertemuan-pertemuan lagi untuk ‘Perbincangan Intens Tata Ruang Soehat’ hingga ada solusi terbaik,” jelas alumnus S-1 PWK ITN Malang, angkatan 1985 ini.

Dalam kesempatan tersebut Wahyu juga menyampaikan di tahun 2025 masyarakat Kota Malang akan bisa menikmati transportasi publik gratis dengan fasilitas ber-AC. Transportasi publik rencananya melewati tiga titik/ kawasan, yakni kawasan pendidikan, perdagangan, dan perkantoran. Transportasi tersebut akan terpantau oleh komputer sehingga bisa berjalan tepat waktu, dengan kecepatan yang sudah ditentukan.

“Angkutannya ber-AC, titik-titiknya (rute) sudah jelas. Dishub sudah mengumpulkan pemilik angkot-angkot tersebut untuk saling sharing. Semoga ini bisa untuk menyelesaikan permasalahan transportasi dan menjadi solusi di tahun 2024 mendatang,” katanya.

Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang, Arief Setiyawan ST., MT mengatakan, Kawasan Soehat sudah dikaji oleh sejumlah akademisi dan dinyatakan sangat layak untuk dikembangkan menjadi wisata milenial.

“Kami ingin menangkap dari sisi akademisi bahwa setelah ada wisata kolonial heritage Kayutangan, juga inginnya Kota Malang memiliki wisata yang lebih milenial. Untuk mengembangkan Kawasan Soehat tidak mungkin langsung/ menyeluruh. Nanti bisa dibuat per segmen (koridor). Akan terus dikaji tentunya,” kata Arief.