Reportasemalang – Menghadapi kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah, sivitas akademika Universitas Brawijaya (UB) menggelar salat Istisqa berjamaah pada Jumat (23/10/2026). Ibadah tersebut menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan sekaligus mengajak umat Islam mendekatkan diri kepada Allah SWT di tengah kondisi alam yang menantang.
Ketua Takmir Masjid Raden Patah UB, M. Kholid Mawardi, mengatakan bahwa fenomena alam tidak hanya dapat dipahami melalui pendekatan ilmiah, tetapi juga menjadi bahan perenungan atas kebesaran Allah SWT.
Menurutnya, sebagai insan akademis yang religius, sivitas akademika perlu memadukan pemahaman ilmiah dengan penghayatan terhadap ayat-ayat kauniah atau tanda-tanda kebesaran Allah yang tercermin dalam alam semesta.
“Kita menyadari bahwa memahami fenomena alam ini tidak cukup hanya dengan pendekatan ilmiah, melainkan ayat-ayat kauniah juga harus kita kaji. Karena itu, sivitas akademika UB bersepakat untuk mengetuk pintu langit, bertobat, memohon ampun, dan berdoa agar Allah SWT segera menurunkan rahmat-Nya lewat hujan,” ujar Kholid.
Ia menjelaskan, salat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar umat Islam ketika menghadapi kekeringan. Melalui ibadah tersebut, umat diajak untuk memperbanyak doa, memohon ampunan, serta menyadari keterbatasan manusia di hadapan Sang Pencipta.
Pelaksanaan salat pada hari Jumat juga diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dalam berdoa. Hari Jumat dikenal sebagai sayyidul ayyam atau penghulu segala hari bagi umat Islam.

Sementara itu, Wakil Ketua Takmir Masjid Raden Patah UB, Ratno Bagus Edy Wibowo, menuturkan bahwa pelaksanaan salat Istisqa merujuk pada sunah Rasulullah SAW ketika menghadapi kondisi kekeringan. Menurutnya, peristiwa alam juga mengingatkan manusia bahwa kehidupan dan segala perubahan di alam semesta berada dalam kekuasaan Allah SWT.
“Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita berupaya mengikuti sunah beliau saat menghadapi situasi cuaca kemarau seperti ini. Segala musibah maupun pergantian musim di alam semesta berada sepenuhnya dalam kendali Allah SWT, sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman-Nya bahwa tidak ada musibah yang menimpa kecuali atas izin Allah,” jelas Ratno.
Ia menambahkan, keyakinan tersebut mengajarkan manusia untuk tidak hanya mengandalkan kemampuan diri, tetapi juga senantiasa memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Ratno mengutip prinsip ketauhidan dalam Surah Al-Fatihah, yakni iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn, yang berarti hanya kepada Allah manusia menyembah dan hanya kepada-Nya memohon pertolongan.
“Filosofi dasarnya kembali kepada iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn, hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan. Ketika manusia diuji dengan kekeringan, pintu pertolongan utama adalah kembali kepada-Nya,” pungkasnya.
Melalui pelaksanaan salat Istisqa ini, keluarga besar UB berharap hujan segera turun di Malang dan sekitarnya. Turunnya hujan diharapkan dapat membantu mengakhiri kekeringan, menjaga kesuburan tanah, serta memberikan manfaat bagi masyarakat yang terdampak kemarau.


