Search
Close this search box.
14 Juli 2024

Gradasi Tempe Sabar, Upaya Masyarakat Menjaga Lingkungan dengan Sedekah Sampah

Aksi Tempe Sabar mengambil sedekah Sampah dari warga. (Foto: Agus N/reportasemalang)
Aksi Tempe Sabar mengambil sedekah Sampah dari warga. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Bagikan :

Reportasemalang – Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) Malang Raya didukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Serta Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) menggelar Sosialisasi GRADASI.

Sekaligus memperingati 1 Tahun Gradasi Tempat Pemilah Sampah Barokah (Tempe Sabar) dengan pemberian santunan untuk anak yatim piatu, duafa dan petugas kebersihan.

Kasubdit Tata Laksana Produsen Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK, Ujang Solihin Sidik dalam sambutan yang disampaikan secara online mengatakan bahwa permasalahan sampah harus dihadapi secara serius oleh kita semua. Pasalnya, 5-7 tahun ke depan, kota-kota besar seperti Malang ini akan menghadapi persoalan yang sama. Yaitu ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“TPA itu selalu saya ibaratkan sebagai Bom waktu. Karena suatu saat bisa meledak menjadi persoalan di Kota-kota di Indonesia. Dan ini di Yogyakarta sudah meletup. Dimana TPA Piyungan sudah ditutup seminggu terkahir ini,” ungkapnya.

Pembina Kader Lingkungan, Wasto meninjau Omah Sedekah sampah Tempe Sabar. (Foto: Agus N/reportasemalang)
Pembina Kader Lingkungan, Wasto meninjau Omah Sedekah sampah Tempe Sabar. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Sehingga sudah saatnya kota-kota di Indonesia, seperti kota Malang ini tidak bertumpu lagi kepada TPA. Karena kalau hanya bertumpu dengan TPA, tinggal menunggu waktu.

Maka salah satu solusinya, adalah dengan mengatasi sampah mulai dari sumbernya. Dimana sumber sampah terbesar ada di rumah tangga.

“Maka gerakan Gradasi ini menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan. Yakni selesaikan sampah di rumah tangga. InsyaAllah Kota Malang akan selamat,” ujarnya, Minggu (13/8/2023).

“Jadi mari kita sama-sama mengatasi sampah mulai dari sumbernya. Karena masyarakat kita semua adalah penghasil sampah, maka tanggung jawab melekat kepada kita semua,” tandasnya.

Gerakan ini kemudian sudah diterapkan Komunitas Tempat Pemilah Sampah Barokah (Tempe Sabar) satu tahun belakangan. Dimana masyarakat digerakkan untuk menyedakahkan sampah mereka.

Dengan mengusung motto “Pantang Pulang Tanpa Bawa Sampah” para perintis Tempe Sabar sepakat. Bahwa seluruh uang dari hasil penjualan sampah tersebut, 100 persen digunakan untuk santunan.

“Jadi setelah sampah dari warga sudah terkumpul dan dipilah, kemudian sampah ini kita jual ke pengepul sampah. Dan hasil penjualan, seluruhnya kita donasikan kepada Yatim Piatu, Dhuafa dan petugas kebersihan yang ada di RW 3 RT 7 Kelurahan Kedungkandang,” jelas Ketua Tempe Sabar, Susiana Ita.

Santunan kepada anak yatim, duafa dan petugas kebersihan. (Foto: Agus N/reportasemalang)
Santunan kepada anak yatim, duafa dan petugas kebersihan. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Disampaikan Susiana, hari ini sudah kedua kalinya Tempe Sabar menyerahkan santunan kepada yang membutuhkan. Dari hasil penjualan sampah yang terkumpul dari warga.

“Santunan pertama diberikan kepada 22 orang saat acara Halal bihalal. Kemudian santunan kedua hari ini kepada 11 orang dalam acara 1 tahun Gradasi Tempe Sabar,” ucapnya.

Melalui gerakan sedekah sampah Tempe Sabar ini, Susiana berharap bisa menjadi virus kebaikan yang tidak hanya berhenti sampai di RT 7 RW 3 saja ini.

“Setidak bisa menjadi gerakan massal warga Kota Malang. Semua bersedekah sampah,” tuturnya.

Lebih lanjut, hadirnya Tempe Sabar ini diapresiasi Pembina Kader Lingkungan Hidup Kota Malang, Wasto. Menurutnya, virus-virus positif sedekah sampah semacam ini harus terus ditularkan.

“Kelebihan dari komunitas Tempe Sabar ini, seluruh jenis sampah apapun diambil. Seperti kaca, sepatu, sandal dan plastik bungkus. Sehingga InsyaAllah ini bisa signifikan dan luar biasa dalam mengurangi sampah di Kota Malang, “ujarnya.

Bayangkan, dari sampah bisa sedekah ke yang membutuhkan. Satu perbuatan positif yang mulia. Menghimpun sampah saja itu sudah mulia, lakok hasilnya masih diberikan ke anak yatim, duafa, petugas sampah. Itu kan jadi berlipat-lipat kebaikannya.

“Sehingga kalau sebagian besar masyarakat punya pemikiran itu dan mampu merealisasikannya. Hidup di Bumi Arema ini akan menjadi lebih nyaman,” tutupnya.

Ketua Tempe Sabar Susiana Ita dan Inisiator Gradasi Malang Raya, Sulaiman Sulang. (Foto: Agus N/reportasemalang)
Ketua Tempe Sabar Susiana Ita dan Inisiator Gradasi Malang Raya, Sulaiman Sulang. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Senada, Anggota Komisi B DPRD Kota Malang, Lookh Mahfud turut mengapresiasi gerakan sedekah sampah yang digalakkan Komunitas Tempe Sabar. Menurutnya, gerakan ini sungguh mulia sehingga perlu disuport.

“Maka saya sebagai bagian dari DPRD Kota Malang, mensuport kegiatan-kegiatan Tempe Sabar ini, mulai dari pengadaan motor roda tiga untuk mengangkut sampah. Hingga pengadaan kolam untuk ikan lele dan yang akan direncanakan adalah untuk Magot,” ungkapnya.

Selain itu menurut Lookh Mahfud, yang perlu diapresiasi juga adalah manajemen keuangannya yang bagus dan amanah. Sehingga mampu berkontribusi bagi para yatim dan duafa.

“Dari sampah yang dibuang ternyata masih bermanfaat untuk sesama,” tuturnya.

Ini penting untuk diangkat sebagai isu positif di masyarakat. Justru disaat menghadapi problem sampah yang luar biasa membebani APBD Kota Malang.

“Kami mengajak kepada masyarakat Kota Malang untuk mencotoh semangat dari teman-teman Tempe Sabar ini. Yang telah melaksanakan pemilihan sampah dan kemudian menjadikannya sebagai lahan untuk bersedekah,” tandasnya.

Sementara itu, dalam acara tersebut juga dilakukan launching Lomba Gradasi tingkat Jawa Timur.

Inisiator Gradasi Malang Raya, Sulaiman Sulang menjelaskan, lomba Gradasi ini terdiri dari 6 kategori. Yaitu, Gradasi berbasis sekolah, Gradasi berbasis rumah ibadah, Gradasi berbasis komunitas, Gradasi berbasis lembaga pemerintahan, Gradasi berbasis industri dan Gradasi berbasis RT, RW. Dimana masing-masing kategori dipilih enam pemenang.

“Harapannya, lomba ini dapat menjadi wadah untuk menuangkan antusiasme dan inovasi masyarakat dalam aktivitas sedekah sampah, serta menjadi inspirasi dan penyadartahuan untuk masyarakat luas,” pungkasnya.