15 Oktober 2026

FSTeM UB Gandeng Pakar Lima Negara di Gelaran BASIC 2026, Perkuat Hilirisasi Riset dan Kolaborasi Global

Bagikan :

Reportasemalang – Fakultas Sains dan Teknologi/MIPA (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) memperkuat upaya hilirisasi riset melalui penyelenggaraan 14th Basic and Applied Science International Conference (BASIC) 2026. Konferensi internasional ini mempertemukan akademisi dan pakar dari lima negara untuk mendorong kolaborasi penelitian, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, serta mengembangkan inovasi berbasis sains dasar dan terapan.

Konferensi yang berlangsung pada 15–16 Oktober 2026 di The Jien Suites Resort & Convention, Malang, Jawa Timur, tersebut mengusung tema “Advancing Mathematics, Sciences, and Technology for Resilient and Sustainable Development”.

BASIC menjadi wadah pertukaran gagasan, pemaparan hasil penelitian, dan penguatan jejaring akademik lintas negara serta disiplin ilmu. Forum ini juga diarahkan untuk mendorong hasil riset fundamental agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi berkembang menjadi inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Ketua Panitia BASIC, Prof. Dr. Akhmad Sabarudin, M.Sc., menegaskan bahwa pengembangan teknologi yang berdampak luas harus bertumpu pada fondasi riset dasar yang kuat.

Menurutnya, penguatan sains dasar, khususnya bidang kimia dan biologi, menjadi bagian penting dalam mendorong hilirisasi penelitian dan mewujudkan kemandirian teknologi nasional.

“Keterhubungan antara sains dasar, terapan, dan rekayasa merupakan fondasi utama hilirisasi riset. Melalui konferensi ini, kami berupaya menjawab tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari ketahanan energi, pemanasan global, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI),” ungkap Prof. Sabarudin.

Rektor UB membuka Basic 2026

Ia menambahkan, penguatan ekosistem penelitian perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antarlembaga, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan inovasi yang menjembatani kebutuhan akademik dan industri.

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., mengapresiasi keterlibatan akademisi dan peneliti internasional dalam BASIC 2026.

Pakar dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Jepang, dan Mesir disebut membuka peluang lebih luas bagi pengembangan jejaring penelitian dan peningkatan kualitas riset di lingkungan UB.

Prof. Widodo menegaskan, universitas berkomitmen memperkuat dukungan sarana dan prasarana penelitian agar sivitas akademika mampu menghasilkan karya ilmiah yang kompetitif di tingkat internasional.

“Kolaborasi lintas negara ini diharapkan mampu memacu publikasi riset terkemuka, mencetak ilmuwan kelas dunia yang masuk kategori 2 hingga 5 persen peneliti top dunia, bahkan membuka peluang lahirnya peraih penghargaan bergengsi tingkat internasional di masa depan,” tegasnya.

Sejumlah akademisi hadir sebagai pembicara utama (keynote speakers), di antaranya Assoc. Prof. Ts. Abdul Halim Abdul Latiff dari Universiti Teknologi Petronas, Malaysia; Prof. Sulaiman Wadi Harun dari University of Malaya, Malaysia; serta Assoc. Prof. Chairat Treesubsuntorn dari King Mongkut’s University of Technology Thonburi, Thailand.

Pembicara utama lainnya adalah Assoc. Prof. Wan Mohd Nuzul Hakimi bin W Salleh dari Sultan Idris Education University, Malaysia; Danang Teguh Qoyyimi, Ph.D., dari Universitas Gadjah Mada, Indonesia; serta Assist. Prof. Kento Kasahara dari Osaka University, Jepang.

Sementara itu, sesi pembicara undangan (invited speakers) menghadirkan Dr. Syazreen Niza Shair dari Universiti Teknologi MARA, Malaysia; Dr. Siti Maimunah dari Kementerian Perhubungan, Indonesia; dan Dr. Muhammad Yusuf dari Universitas Brawijaya, Indonesia.

Kehadiran para pakar tersebut diharapkan memperkaya perspektif lintas disiplin, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, serta membuka peluang penelitian bersama yang berkelanjutan.

Dekan FSTeM UB, Prof. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa BASIC tidak dirancang sebatas forum presentasi makalah. Konferensi ini diarahkan untuk menghasilkan kerja sama konkret melalui program penelitian, pengembangan kapasitas akademisi, dan peningkatan kualitas pendidikan pascasarjana.

Sebagai langkah awal, FSTeM UB menyiapkan penguatan kerja sama antarlembaga melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dan perjanjian kerja sama (Memorandum of Agreement/MoA).

Agenda kolaborasi mencakup pendampingan penyusunan proposal penelitian, pelaksanaan riset bersama lintas universitas, hingga penjajakan program gelar ganda (double degree) untuk jenjang doktoral.

Kerja sama tersebut diharapkan memperluas akses peneliti UB terhadap jejaring akademik internasional, meningkatkan peluang pendanaan penelitian, serta memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang sains dan teknologi.

Foto bersama peserta 14th BASIC

FSTeM UB juga mendorong peningkatan kualitas publikasi dengan melibatkan pemimpin redaksi (editor-in-chief) dan penerbit jurnal ilmiah internasional bereputasi. Melalui pendekatan ini, peneliti diharapkan dapat memahami standar publikasi internasional sekaligus meningkatkan kualitas manuskrip ilmiah.

Artikel terpilih selanjutnya diharapkan dapat diarahkan ke jurnal bereputasi global sesuai ruang lingkup dan proses penelaahan masing-masing jurnal. Dengan demikian, diseminasi hasil penelitian tidak hanya bergantung pada prosiding konferensi.

Ke depan, FSTeM UB merencanakan pengembangan BASIC melalui penyelenggaraan bersama (in conjunction) dengan forum ilmiah internasional lainnya, termasuk International Conference on Chemistry and Material Science (IC2MS) serta jejaring kemitraan riset bilateral Indonesia–Prancis melalui LMI-LSI.

Integrasi tersebut diharapkan memperluas cakupan kolaborasi, mempertemukan lebih banyak peneliti dari berbagai disiplin ilmu, serta mendorong terbentuknya agenda riset bersama yang berkelanjutan.

Melalui penguatan sains dasar, riset terapan, publikasi bereputasi, dan kemitraan internasional, FSTeM UB berupaya menjadikan BASIC sebagai salah satu sarana penguatan ekosistem penelitian.

Upaya ini diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi, meningkatkan daya saing ilmuwan Indonesia, serta mendukung kemandirian teknologi nasional.

Penyelenggaraan BASIC 2026 turut mendapat dukungan dari Sunday Travel dan Bank Mandiri Cabang Brawijaya.