2 Oktober 2026

FBiPK UB Gali Teknologi Pengelolaan Air dari EPFL Swiss

FBiPK UB Gali Teknologi Pengelolaan Air dari EPFL Swiss
Dekan FBiPK UB Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D. mendampingi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI Agus Harimurti Yudhoyono saat mengunjungi École Polytechnique Fédérale de Lausanne Swiss

Bagikan :

Reportasemalang – Pengelolaan sumber daya air menjadi perhatian di tengah meningkatnya kebutuhan air untuk berbagai sektor, termasuk pengembangan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI), serta persoalan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi dan tata kelola sumber daya air yang lebih berkelanjutan. Salah satu pembelajaran datang dari Swiss, melalui kunjungan kerja Dekan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D. bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI Agus Harimurti Yudhoyono ke École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), Lausanne, Swiss, Kamis (1/10/2026).

Dalam agenda tersebut, Prof. Mangku mendampingi Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan mempelajari teknologi pengelolaan air dan energi yang dikembangkan EPFL.

EPFL merupakan perguruan tinggi sains dan teknologi di Lausanne yang menjadi salah satu dari dua Institut Teknologi Konfederasi Swiss. Institusi tersebut dikenal memiliki berbagai fasilitas riset dan pengembangan teknologi di bidang teknik, energi, serta pengelolaan sumber daya air.

Kunjungan dilakukan dengan meninjau EPFL Hydropower Laboratory, termasuk fasilitas Technology Platform for Hydraulic Machines (PTMH) dan Hydraulic Constructions Platform (PL-LCH).

Fasilitas tersebut mengembangkan sejumlah teknologi, mulai dari digital twin “water-to-wire”, pengujian model berskala dengan standar internasional IEC 60193, hingga teknologi pemeliharaan prediktif yang memadukan sensor fisik dan kecerdasan buatan (AI).

Teknologi dan pengelolaan tersebut juga diterapkan dalam sistem pembangkitan tenaga air di Sungai Aare, Swiss.

Sungai Aare merupakan salah satu sungai utama di Swiss dengan panjang sekitar 288–295 kilometer. Sungai ini berhulu di kawasan Pegunungan Alpen dan mengalir melalui sejumlah wilayah penting, termasuk mengitari tiga sisi Kota Bern.

Sesi foto bersama

Dari kunjungan tersebut, Prof. Mangku menilai terdapat pelajaran penting yang dapat diadaptasi Indonesia. Menurutnya, air tidak hanya perlu dipandang sebagai sumber daya lingkungan, tetapi juga memiliki potensi sebagai sumber energi dan penggerak ekonomi.

Ia menilai kondisi Sungai Aare tidak serta-merta lebih baik dibandingkan sejumlah sungai di Indonesia, seperti Sungai Brantas dan Citarum. Perbedaan utama, menurutnya, terletak pada tata kelola, kedisiplinan masyarakat, dukungan infrastruktur, serta konsistensi pemerintah dalam menjaga kualitas sungai.

“Sungai Aare dikelola dengan aturan yang jelas dan didukung oleh perilaku masyarakat yang peduli terhadap kebersihan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan sungai tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik. Perubahan paradigma dan perilaku masyarakat juga menjadi faktor penting,” ujar Prof. Mangku.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta dalam membangun sistem pengelolaan air yang berkelanjutan.

Pemerintah, kata dia, memiliki peran dalam menyediakan regulasi serta arah pembangunan yang jelas. Akademisi dapat berkontribusi melalui penelitian dan inovasi, sementara sektor swasta dapat mendukung melalui investasi. Adapun masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sungai dan lingkungan.

“Perbaikan pengelolaan sumber daya air di Indonesia membutuhkan perubahan perilaku, regulasi yang konsisten, pembangunan infrastruktur, penerapan teknologi, investasi, serta kolaborasi berbagai pihak. Indonesia tidak harus meniru Swiss secara langsung, tetapi dapat mengambil pelajaran dari sistem yang telah berhasil dan menyesuaikannya dengan kondisi lokal,” tegasnya.

Menurut Prof. Mangku, ekosistem riset dan inovasi yang dikembangkan EPFL memberikan gambaran bahwa sungai dapat dikelola tidak hanya sebagai sumber daya lingkungan, tetapi juga sebagai sumber energi dan penggerak ekonomi secara berkelanjutan.

Potensi tersebut dapat dikembangkan di Indonesia melalui penguatan tata kelola, inovasi teknologi, investasi, serta kolaborasi lintas sektor.

Perubahan, lanjutnya, dapat dimulai melalui proyek percontohan di sejumlah wilayah. Hasil dari proyek tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi model pengelolaan yang lebih luas dan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.

Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sumber daya air di Indonesia diharapkan tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga mencakup perubahan perilaku, pemanfaatan teknologi, perlindungan lingkungan, serta peningkatan nilai ekonomi sumber daya air.