Si Tukang Sihir dari Brazil, 3 Tahun Bawa Arema Juara


Malang – El Magico atau Si Tukang Sihir (dalam bahasa Indonesia) julukan itulah yang disematkan Aremania pada diri Joao Carlos Quintao Dos Santos. Gelandang elegan asal Negeri Samba Brazil ini merupakan sosok pemain yang menganut gaya bermain jogo bonito, sebuah filosofi sepak bola yang kental dianut di negara kelahirannya.

Passing terukur, visi permainan yang tajam, pandai merancang pola serangan dan diakhiri dengan through pass tajam adalah sebagian nilai plus yang ada pada adik kandung Carlos de Melo, mantan gelandang Petrokimia Gresik.

Salah satu hal yang membuat aremania kagum dan menjadikannya sebagai inspirator adalah kelihaiannya memberikan passing tanpa melihat (no look pass) kepada temannya. Skill yang mampu membuat lawan terkecoh karena sering lawan lebih memperhatikan gerak tubuh dan arah pandangan matanya. Sangat wajar kalau Benny Dollo pelatih Singo Edan kala itu langsung merekomendasikan namanya ke manajemen Arema untuk segera mengontrak Jo.

Satu kebiasaan Bendol yang sangat jarang ditemui pada saat menilai pemain seleksi Arema saat itu. Bendol begitu terpikat skill dan visi permainannya, yang tidak dia temui pada pemain seleksi sebelumnya.

Joao Carlos bersama kompatriotnya asal Brasil, Rivaldo Costa, Junior Lima dan Claudio de Jesus mempersembahkan gelar juara Liga Pertamina Divisi I 2004

Jo pun langsung menjadi sosok yang diagungkan di Malang dan langsung dibayar lunas dengan mengantarkan Arema juara divisi I Liga Pertamina 2004 dan 2 kali Copa Dji Sam Soe 2005-2006. Torehan prestasi tersebut ternyata tidak menjadi pertimbangan Miroslav Janu (pelatih Arema setelah Bendol) untuk mempertahankannya. Janu mencoret Joao di awal putaran kedua Liga Indonesia 2007.

Dari kiri ke kanan : Claudio de Jesus, Franco Hita dan Joao Carlos usai final Copa Dji Sam Soe 2005 di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta


Lama tak terdengar kabarnya, Sang Magician kembali hadir menyapa Aremania. Lewat akun instagramnya @joaocarlos22santos, pemain kelahiran 10 Juni itu mengungkapkan kerinduannya kepada publik Kota Malang.

“Saya terputus dengan jejaring sosial untuk waktu yang lama. Saya benar-benar tidak suka tinggal di dunia digital ini. Namun, kerinduan putra saya, yang mengikuti jejak saya adalah untuk berkarier di Brasil, membuat saya tidak punya alternatif,” tulis Joao dalam captionnya

“Saya tidak membayangkan bahwa alat digital sederhana dapat membawa saya ke waktu terbaik yang saya jalani dalam karir saya sebagai atlet profesional !!! Juara 3x berturut-turut untuk sebuah tim yang saya pelajari untuk mencintai dan bahwa hari ini adalah bagian dari sejarah saya! Ketika saya menyelesaikan satu tahun kehidupan lagi, saya ingin memberikan penghormatan kepadanya dan terutama kepada orang banyak yang sensasional ini berterima kasih kepadanya atas kebaikan dan cinta yang diterimanya. Terima kasih (AREMANIA),”  tukasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *